Skip to main content

1.2.1 Ilmu Fardhu 'Ain

BAB KEDUA Ilmu-Ilmu Terpuji dan Tercela, Pembagian, Hukum, dan Penjelasannya, dan Ilmu Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah

Ilmu Fardhu 'Ain

Bersabda Nabi saw.

طلب العلم فريضة على كل مسلم

"Menuntut ilmu wajib atas tiap-tiap muslim "

Dan bersabda pula Nabi saw.

اطلبوا العلم ولو بالصين

"Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina sekalipun "

Manusia berbeda pendapat mengenai ilmu yang menjadi fardlu 'ain atas tiap-tiap muslim. Mereka sampai berpecah-belah lebih dari dua puluh golongan. Kami di sini tidak akan menguraikannya secara
terperinci. Akan tetapi dapat disimpulkan bahwa masing-masing golongan itu menempatkan wajib pada ilmu yang dipilihnya. Ulama imu kalam mengatakan bahwa ilmu kalamlah yang wajib karena dengan ilmu kalam diketahui keesaan Tuhan, zat dan sifat-Nya. Ulama Fiqih berkata bahwa ilmu fiqih yang fardlu 'ain karena dengan ilmu fiqih diketahui ibadah, halal dan haram, dan apa yang diharamkan dan dihalalkan dari hukum mu'amalah. Ulama fiqih berusaha dengan sungguh-sungguh membentangkan apa yang diperlukan masing-masing orang, bukan pada persoalan yang jarang terjadi. U1ama tafsir dan ulama hadits berkata berkata bahwa ilmu Kitab dan Sunnah yang fardlu 'ain karena dengan perantaraan keduanya akan sampai kepada ilmu-ilmu yang lain seluruhnya. Adapun ulama tasawwuf mengatakan bahwa yang dimaksudkan ialah ilmu tasawwuf. Sebagian mereka mengatakan bahwa ilmu tasawwuf itu ialah pengetahuan hamba Allah dengan dirinya dan kedudukannya dari Allah 'Azza wa Jalla. Sebahagian mereka mengatakan, bahwa ilmu tasawwuf itu ialah, ilmu tentang keikhlasan dan penyakit-peny.akit yang membahayakan bagi diri dan untuk membedakan antara langkah malaikat dari langkah setan. Diantara mereka mengatakan, bahwa ilmu tasawwuf itu ilmu bathin. Dari itu diwajibkan mempelajarinya bagi golongan tertentu, di mana mereka ahli dalam ilmu tersebut. Dan berubahlah maksud hadits tersebut dari keumumannya.
Berkata Abu Tholib Al-Makki bahwa ilmu yang diwajibkan ialah pengetahuan yang terkandung dalam hadits yang menerangkan pilar-pilar Islam, yaitu sabda Nabi saw., "Didirikan Islam atas lima pilar, mengakui bahwasanya tiada Tuhan selain Allah ...sampai akhir hadits". Oleh karena yang wajib adalah yang lima itulah, maka wajiblah mengetahui cara mengerjakannya dan alasan kewajibannya. Dan
yang seharusnya diyakini oleh yang telah memperolehnya dan tidak diragukan lagi ialah apa yang akan kami terangkan bahwa ilmu -seperti telah kami singgung pada kata pembukaan kitab ini-, terbagi menjadi dua, ilmu mu'amalah dan ilmu mukasyafah. Dan ilmu yang dimaksudkan di sini tidak lain dari ilmu mu'amalah. 
Ilmu Mu'amalah yang ditugaskan kepada hamba Allah yang berakal dan dewasa untuk mengamalkannya ada tiga : aqidah, perintah dan larangan. Orang yang berakal sehat apabila telah sampai umur (baligh), baik dengan bermimpi (ihtilam) atau dengan ukuran tahun, pada pagi hari umpamanya, maka yang pertama kali wajib atas dirinya ialah mempelajari dua kalimah syahadah serta memahami artinya yaitu "tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah". Dan tidak diwajibkan kepadanya untuk memahaminya dengan pemikiran, pembahasan dan penguraian dalil-dalil. Tetapi cukuplah sekedar ia membenarkan dan meyakini benar-benar, dengan tak bercampur keraguan dan kebimbangan hati.
Hal itu mungkin berhasil dengan semata-mata bertaklid dan mendengar, tanpa pembahasan dan dalil. "Karena Rasulullah saw. sendiri mencukupkan dari orang-orang Arab itu dengan membenarkan dan mengakui tanpa mempelajari dalil".
Apabila telah terlaksana demikian, maka telah tertunailah kewajiban waktu itu. Dan adalah ilmu yang menjadi fardlu 'ain baginya di waktu itu ialah mempelajari dua kalimah syahadah dan memahami. Dan tidak ada kewajibannya selainnya pada waktu tersebut dengan alasan jika dia mati sesudah itu, maka kematiannya dalam ta'at kepada Allah Azza wa Jalla bukan dalam ma'siat. Kewajiban selain itu akan datang dengan sebab-sebab yang mendatang. Dan tidaklah yang demikian terjadi pada tiap-tiap orang, bahkan mungkin terlepas daripadanya.
Sebab-sebab mendatang itu, adakalanya dalam bentuk perintah, atau larangan atau pada aqidah. Dalam perintah umpamanya, dia hidup dari pagi hari sampai waktu Dhuhur. Maka dengan masuknya waktu Dhuhur, datanglah kewajiban baru baginya, yaitu mempelajari cara bersuci dan bershalat.
Kalau dia sehat dan bertahan sampai waktu tergelincir matahari, yang tidak mungkin ia menyempurnakan pelajaran dan mengerjakan Dhuhur dalam waktunya, tetapi waktu akan habis jika dia tetap belajar, maka tepatlah kalau dikatakan bahwa pada dhahirnya dia terus hidup. Oleh karena, wajiblah ia mendahulukan belajar setelah masuknya waktu. Dan boleh pula dikatakan bahwa wajib adanya ilmu itu menjadi syarat untuk amal, selanjutnya wajib mengamalkannya. Maka belajar itu belum lagi wajib sebelum gelincir matahari.
Demikian pula pada sembahyang-sembahyang selain dari Dhuhur tadi. Bila dia terus hidup sampai bulan Ramadlan, maka bertambah pula kewajibannya mempelajari puasa yaitu mengetahui bahwa waktunya dari waktu Shubuh sampai terbenam matahari.
Bahwa diwajibkan pada puiasa ialah niat dan menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh. Keadaan demikian berjalan terus sampai tampak hilal, oleh dia sendiri atau oleh dua orang saksi.
Kalau hartanya bertambah atau memang dia orang berharta ketika dewasa, maka wajib pula mempelajari kewajiban zakat. Te­tapi tidaklah diwajibkan pada saat itu juga. Hanya baru wajib waktu telah sampai setahun (haul) dari masa lslamnya. Jika dia hanya mempunyai unta maka yang harus dipelajarinya ialah zakat unta. Begitu pula dengan jenis-jenis yang lain.
Apabila datang bulan hajji, tidaklah wajib ia bersegera mempelajari pengetahuan hajji karena mengerjakannya adalah dalam waktu yang lama. Dari itu tidak diwajibkan mempelajarinya cepat-cepat.
Tetapi sebaiknya bagi ulama Islam memperingatkannya bahwa hajji itu suatu kewajiban yang sama atas tiap-tiap orang yang mempunyai perbekalan dan kendaraan. Apabila ia memiliki barang-barang tersebut, maka mungkin timbul hasrat dalam hatinya hendak menyegerakan menunaikan ibadab hajji itu. Maka ketika itu, bila hasrat telah timbul, maka haruslah ia mempelajari cara mengerjakan hajji. Dan kewajiban itu hanya sebatas mempelajari rukun dan wajibnya, tidak sunatnya. Sebab bila mengerjakannya sunat, maka mempelajarinya sunat pula. Dari itu tidaklah menjadi fardlu 'ain mempelajarinya.
Tentang haramnya berdiam diri dari pada memberitahukan atas kewajiban pokok hajji itu, pada waktu sekarang, adalah menjadi suatu perhatian yang layak pada ilmu fiqih.
Demikianlah secara beransur-ansur tentang ilmu amal perbuatan yang lain yang menjadi fardlu 'ain.
Adapun yang larangan, maka wajiblah mempelajari ilmu itu menurut perkembangan keadaan. Dan yang demikian itu berbeda menurut keadaan orang. Hal ini dikarenakan tidaklah wajib atas orang bisu mempelajari kata-kata yang diharamkan. Tidaklah atas orang buta mempelajari apa-apa yang haram dari pandangan. Dan tidaklah wajib atas orang desa (badui) mempelajari tempat-tempat duduk yang diharamkan. Maka yang demikian itu juga wajib menurut yang dikehendaki oleh keadaan. Apa yang diketahuinya bahwa dia terlepas daripadanya, maka tidaklah diwajibkan mempelajarinya. Dan apa yang tidak terlepas daripadanya, maka wajiblah diberitahukan kepadanya.
Seumpama, ketika ia masuk Islam, adalah ia memakai kain sutera atau duduk pada perampokan atau suka berhubungan dengan yang bukan mahramnya maka wajiblah diberitahukan kepadanya hal yang demikian itu. 
Dan apa yang tidak melekat padanya, tetapi akan dihadapi pada masa dekat seperti makan dan minum, maka wajiblah mengajarkannya. Sehingga apabila timbul dalam negeri minuman khamar dan makanan daging babi, maka wajiblah diajarkan yang demikian dan diberitahukan. Dan tiap-tiap wajib diajarkan wajiblah dipelajari.
Adapun mengenai aqidah dan amal perbuatan hati, wajiblah mengetahuinya menurut bisikan hati. Kalau timbul keraguan mengenai pengertian yang terkandung dalam dua kalimah syabadah, maka wajiblah ia mempelajari apa yang dapat menghilangkan keraguan itu. Jikalau tidak terbisik dalam hatinya hal yang demikian itu dan ia mati sebelum beri'tikad bahwa kalam Allah itu qadim, Allah akan dilihat dan tiada pada-Nya segala sifat makhluk serta lain-lain sebagainya yang tersebut dalam bahagian kei'tiqadan, maka sepakatlah ulama bahwa ia mati dalaln Islam. Tetapi bisikan-bisikan hati ini yang menyangkut dengan kepercayaan, sebahagian timbul disebabkan kepribadian seseorang dan sebahagian lagi disebabkan pendengaran dari sesama penduduk. Jikalau dalam negeri berkembang pembicaraan mengenai yang demikian dan manusia memperkatakan tentang perbuatan-perbuatan bid'ah, maka seyogialah dijaga dari permulaan masa dewsa dengan mengajarkan yang benar. Kalau di dalam hatinya telah terdapat hal yang batil, maka wajiblah dihilangkan dari hatinya itu. Mungkin yang demikian itu sukar. Seumpama, jikalau muslim itu saudagar dan telah berkembang di tempatnya perbuatan riba, maka wajiblah dipelajarinya, cara menjaga diri dari riba itu.
Demikianlah sebenarnya mengenai pengetahuan yang fardlu 'ain, artinya, ilmu tentang amal perbuatan yang wajib. Maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu yang fardlu 'ain.
Apa yang diterangkan kaum sufi, tentang memahami bisikan-bisikan musuh dan langkah malaikat, adalah benar juga, tetapi terhadap orang yang ada hubunganya dengan itu.
Apabila menurut kebiasaan, bahwa manusia itu tidak terlepas dari panggilan kejahatan, ria dan dengki, maka haruslah ia mempelajari bagian sifat-sifat yang membinasakan diri apa-apa yang dipandangnya perlu untuk dirinya. Bagaimana tidak wajib? Rasulullah saw. pemah bersabda

ثلاث مهلكات شح مطاع وهوى متبع وإعجاب المرء بنفسه

Artinya:
"Tiga perkara, membinasakan manusia, kikir yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti dan ketakjuban manusia kepada dirinya".

Tidak terlepaslah manusia dari sifat-sifat tersebut dan lain-lain sifat yang akan kami terangkan, dari sifat-sifat hal-ikhwal hati yang tercela seperti takabur, 'ujub, dan sebagainya yang mengikuti tiga sifat yang membinasakan itu.
Menghilangkan sifat-sifat tadi adalah fardlu 'ain. Dan tidak mungkin menghilangkannya kecuali dengan mengetahui batasan-batasannya, penyebabnya, tanda-tandanya, dan cara mengobatinya.
Orang yang tidak mengetahui sesuatu kejahatan akan terperosok ke dalamnya. Obatnya ialah menghadapi sebab itu dengan lawannya Maka bagaimana mungkin melawannya itu tanpa mengetahui sebab dan yang disebabkannya? Kebanyakan dari apa yang kami terangkan dalam bahagian sifat-sifat yang membinasakan diri termasuk dalam fardlu 'ain. Dan sudah ditinggalkan manusia karena sibuk dengan hal yang tak perlu.
Diantara yang sebaiknya disegerakan mengajarkannya, apabila tidaklah orang itu telah berpindah dari satu agama ke agama yang lain ialah keimanan dengan sorga, neraka, kebangkitan dari kubur, dan pengumpulan di padang mahsyar hingga dia beriman dan mempercayainya. Dan itu adalah sebagian dari kesempumaan dan dua kalimah syahadah karena setelah membenarkan dengan kerasulan Nabi saw. itu, sebaiknya memahami akan risalah (kerasulan) yang dibawanya, yaitu orang yang menta'ati Allah dan RasulNya, maka baginya sorga. Dan orang yang mendurhakai keduanya, maka baginya neraka.
Maka apabila anda telah memperoleh perhatian akan pelajaran tersebut secara beransur-ansur, maka tahulah anda bahwa inilah madzhab yang sebenamya. Dan yakinlah anda bahwa tiap-tiap hamba Allah dalam perkembangan hal-ihwalnya, siang dan malamnya, tidak terlepas dari kejadian-kejadian yang terkait ibadahnya dan mu'amalahnya secara terus-menerus, akan akibat-akibatnya. Maka haruslah bertanya tentang kejadian-kejadian yang jarang terjadi dan haruslah bersegera mempelajari apa yang diharapkan terjadi dalam waktu dekat.
Apabila telah jelas bahwa Nabi saw. bermaksud dengan perkataan "العلم"  pada sabdanya, "Menuntut al-ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim" ialah ilmu yang disertai dengan amal perbuatan, yang diketahui wajibnya atas pundak kawan muslimin, maka jelaslah cara beransur-ansurnya dan waktu yang diwajibkan mempelajarinya.
Wa Allahu A'lam

Comments

Popular posts from this blog

1.2.2 Ilmu Fardhu Kifayah

BAB KEDUA Ilmu-Ilmu Terpuji dan Tercela, Pembagian, Hukum, dan Penjelasannya, dan Ilmu Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah Ilmu Fardhu Kifayah Ketahuilah bahwa fardlu tidak berbeda dengan yang tidak fardlu, kecuali dengan menyebutkan bahagian-bahagian ilmu. Dan ilmu-ilmu itu dengan disangkutkan kepada fardlu yang sedang kita bicarakan ini, terbagi kepada : ilmu syari'ah dan bukan ilmu syar£'ah. Ilmu syari'ah ialah yang diperoleh dari Nabi-Nabi as. dan tidak didapatkan melalui akal manusia kepadanya, seperti ilmu matematika, atau melalui penelitian seperti ilmu kedokteran, atau melalui pendengaran seumpama bahasa. Ilmu-ilmu yang bukan syari'ah, terbagi kepada : ilmu yang terpuji, ilmu yang tercela dan ilmu yang dibolehkan. Ilmu yang terpuji ialah yang ada hubungannya dengan kepentingan urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran dan ilmu berhitung. Dan itu terbagi kepada fardlu kifayah dan kepada ilmu utama yang tidak fardlu. Ilmu fardlu kifayah ialah tiap-tiap ilmu yang ti…

Mukaddimah

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَنكَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ أَوۡ أَلۡقَى ٱلسَّمۡعَ وَهُوَ شَهِيدٞ ٣٧ 
"Sesungguhnya di dalam siksa yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati untuk mengetahui kebenaran, atau mendengarkan petunjuk dengan memperhatikannya." (Qaf:37 ).
Pertama-tama, Aku memuji Allah dengan banyak pujian yang selalu berlanjut, walaupun tiada berarti pujian para pemuji tersebut di hadapan haq keagungan-Nya.
Kedua, Aku mengucapkan shalawat dan salam kepada para rasul-Nya, shalawat yang melimpahi penghulu umat manusia (Nabi Muhammad) bersama semua rasul lainnya. Ketiga, aku memohonkan kebaikan kepada-Nya Yang Suci tentang azam yang tumbuh untuk mengarang sebuah kitab Ihya Ulumiddin. Keempat, aku menantang untuk memotong kesombonganmu, hai pencela,- yang melampaui batas pada mencela dari golongan orang-orang yang ingkar-, yang berlebih-lebihan mencaci dan melawan, diantara lap…